Ditulis oleh: Akhmad Guntar

mengajukan pertanyaan pemecahan masalah
Ada orang2 yg mempercayai bahwa masalah akan terpecahkan dg sendirinya seiring dg perjalanan waktu. Ada juga yg beranggapan bahwa kita pada akhirnya akan bisa memecahkannya dengan terus melakukan hal yg sama berulang kali. Semuanya tidaklah efektif. Jika kita tidak secara aktif mencari solusi, maka hampir selalu masalahnya tak akan terpecahkan. Jika kita berulang kali menjalani alternatif solusi yg sama dan terbukti telah gagal, maka tentu saja kita akan mengalami kegagalan yg sama.

Kuncinya adalah untuk selalu menanamkan rasa penasaran dalam diri tentang situasi yg terjadi. Lihatlah permasalahan sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan daya kreativitas dan intelektuan alih2 sebagai sebuah penghambat. Memang awalnya tidak mudah sih, tapi ketika Anda sudah berhasil menghunjamkan perspektif ini dalam diri Anda, maka kemampuan problem solving Anda akan jauh lebih meningkat.

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 26% [?]

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Akhir-akhir ini, ada dua istilah yang selalu menjadi perbincangan dan perhatian banyak kalangan. Dua istilah itu adalah “ekonomi kreatif” dan “industri kreatif”. Dalam buku “Misteri Otak Kanan Manusia” yang ditulis oleh Daniel H.Pink, disebutkan tentang sebuah pergeseran seismik yang sedang berproses di dunia maju. Kita bergerak dari sebuah perekonomian dan masyarakat yang dibangun pada kemampuan-kemampuan era informasi yang logis, linear mirip seperti komputer, kepada suatu perekonomian dan masyarakat yang didasarkan pada kemampuan-kemampuan berprespektif luas, kreatif, dan empatik.

A Whole New Mind by Daniel H. Pink

A Whole New Mind by Daniel H. Pink

Pemerintah kita kelihatannya juga sudah mengantisipasi tentang ekonomi kreatif dan industri kreatif yang dianggap sebagai era ekonomi gelombang ke empat. Terbukti pada 4 Juni 2008, menteri perdagangan Mari Ella Pangestu menyerahkan cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2025 dan Pengembangan 14 Sektor Ekonomi Kreatif kepada Presidan RI Susilo Bambang Yudhoyono. Acara penyerahan tersebut berlangsung pada saat pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) 2008 di Jakarta Convention Center (JCC). Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 11% [?]

Ditulis oleh: Akhmad Guntar

kekurangan tidur pengambilan keputusan
Riset menunjukkan bahwa siswa yang mendapatkan tidur yang cukup sebelum ujian bisa mendapatkan nilai lebih tinggi, bahkan ketika mereka tidak belajar lagi. Kekurangan tidur bisa memicu timbulnya masalah serius. Tetap terjaga selama lebih dari 22 jam menghasilkan performa psikomotorik yang sama dengan 0,08 konsentrasi alkohol dalam darah.

Kekurangan tidur memang memiliki dampak yg kurang baik pada kesehatan dan kemampuan berpikir. Tanpa istirahat yg cukup, kemampuan otak untuk bereaksi dan memproses informasi secara cepat menjadi berkurang. Otak kita akan bekerja lebih berat untuk menahan dampak dari kekurangan tidur yg mengakibatkan kemampuan konsentrasi kita akan jadi jauh menurun, demikian juga dg kemampuan mengingat.
Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 21% [?]

November 1st, 2008Pendidikan Harus Berubah Total

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Salah satu fungsi pendidikan adalah membekali anak didik untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses menyongsong masa depannya. Untuk bisa memenuhi fungsi itu, dunia pendidikan harus terbiasa melakukan perubahan-perubahan dalam “dirinya” agar bisa beradaptasi dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Dunia pendidikan tidak akan bisa membekali anak didik untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perubahan, kalau “dirinya” sendiri enggan beradaptasi dan mengantisipasi perubahan.

Foto by Aji Wibi - www.flickr.com/photos/webee

Foto by Aji Wibi - www.flickr.com/photos/webee

Dunia pendidikan Indonesia selama ini sangat lambat beradaptasi, apalagi mengantisipasi perubahan. Ini contoh sederhana. Sudah lama rumah sakit-rumah sakit itu perawatan pasien diklasifikasikan dalam kelompok-kelompok tertentu. Ada bagian anak-anak, ada bagian dewasa, ada bagian penyakit menular, dll. Coba kita perhatikan, pendidikan keperawatan di negara ini sampai sekarang, mayoritas masih memberikan pendidikan keperawatan secara umum. Belum terspesialisasi sesuai yang ada di rumah sakit, misal pendidikan perawat untuk anak, perawat untuk dewasa, perawat untuk penyakit menular, perawat untuk jompo, dll. Bahkan kalau perlu, pendidikan super spesialis keperawatan, misal pendidikan perawat untuk pasien bedah tulang, pendidikan perawat untuk pasien penyakit kanker, dll. Bidang-bidang yang lain, sama saja, tidak ada perubahan yang berarti. Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 13% [?]


© 2008 Bloom! Laboratory | Wordpress Theme by Windows Vista Administration | Powered by Wordpress