Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Bagian kanan otak dapat mencerna berbagai macam hal logis. Menggambar, mengarang, dan melukis mungkin tampak seperti aktivitas belahan otak kiri, namun para seniman memperlihatkan aktivitas bilateral. Dalam merencanakan karya seni, mereka mengikuti logika dan aturan mereka sendiri tentang bentuk, warna, dan suara.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 56% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Pemikiran bahwa satu sisi otak adalah logis dan sisi lainnya kreatif sudah ketinggalan zaman. Kita sesungguhnya bisa menjadi sangat kreatif dengan mengikuti dan menggunakan tahap-tahap, pola, dan variasi yang logis. Buku karya Edward DeBono mengenai berpikir lateral (1970) mengingatkan kita bahwa seseorang dapat menggunakan “sistem otak-kiri” untuk menjadi kreatif. Selama bertahun-tahun dia telah melakukan serangkaian proses untuk sampai kepada solusi kreatif melalui metode yang bertahap.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 53% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Pada awalnya orang berpikir bahwa otak kiri mengontrol bagian kanan tubuh; dan otak kanan mengontrol bagian lainnya. Akan tetapi para peneliti kita mengetahui bahwa otak kita itu sebenarnya asimetris. Otak kiri bertanggungjawab pada sebagian besar urusan, terlepas dari pembagian penanganan bagian tubuh.
Melihat betapa banyak bagian tubuh yang asimetris, tak mengherankan kalau kita mempunyai pilihan fungsional untuk kebiasaan menggunakan tangan, mata, dan telinga tertentu. Anehnya, penyakit seperti tumor sekalipun (pada bagian payudara, ginjal, hidung, indung telur, dan testis) dilaporkan lebih sering terjadi pada bagian kiri tubuh.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 39% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Sering kita dengar bahwa otak kita terbagi menjadi sisi kiri dan sisi kanan. Nah, tapi adakah hal lain dari otak kita selain itu? Ya, ada. Meskipun pembagian lateral inilah yang paling sering kita dengar, ternyata energi dalam otak kita juga bergerak ke atas dan ke bawah — dari batang otak ke arah korteks kemudian kembali lagi ke bawah—pada sumbu vertikal. Otak kita dirancang untuk memproses secara spasial dari belahan kiri ke kanan, tetapi kita memproses waktu (masa lalu dan masa depan) dari belakang ke depan. Neuropeptida yang bersirkulasi melalui darah juga mempengaruhi pemikiran, perilaku, dan reaksi kita. Otak kita, memang merupakan jagat raya mikro yang luar biasa.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 41% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Para ilmuwan telah mengkonfirmasi bahwa setiap otak manusia itu unik, sama halnya seperti sidik jari di jempol kita. Koneksi antar sel yang dibentuk oleh pengalaman membentuk peta kognitif yang sifatnya benar-benar unik. Peta berpikir dan persepsi kita sangatlah bervariasi dan memperlihatkan fluktuasi yang besar dalam batasan-batasannya sepanjang waktu. Dalam sistem visual kita saja, kita memiliki lebih dari tiga puluh pusat interkoneksi otak, yang masing-masing memiliki peta sendiri-sendiri. Pembelajaran terjadi ketika peta-peta ini, di mana jaringan sel-sel saraf saling berbicara satu sama lain. Semakin terkoneksi jaringan-jaringan itu, semakin besar pemaknaan yang diperoleh seseorang dari pembelajaran. Setiap koneksi ini bisa mempunyai lima puluh sampai seratus ribu neuron atau sel otak di dalamnya.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 16% [?]
Ditulis oleh: Kreshna Aditya
Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People menjelaskan tentang sebuah konsep menarik, yaitu Production/Production Capacity (P/PC). Konsep P/PC ini menegaskan tentang pentingnya kita menjaga kapasitas produksi diri kita sendiri. Stephen Covey mengambil analogi kisah angsa bertelur emas. Inti ceritanya adalah seorang yang budiman, atas hadiah dari suatu amal baiknya, berhasil mendapatkan seekor angsa yang dapat bertelur emas setiap harinya. Telur-telur ini ia jual dan dipakai untuk memenuhi segala kebutuhannya. Setiap harinya ia merawat dengan baik angsa ajaib tersebut. Tetangganya, yang tidak terlalu baik, menjadi iri dan mencari tahu rahasianya mendapatkan angsa yang dapat bertelur emas. Singkat cerita, sang tetangga juga berhasil mendapat angsa bertelur emasnya sendiri. Karena pada dasarnya memang tidak baik, si tetangga yang juga tidak sabaran ini berpikir, “Bila tiap hari angsa ini dapat bertelur emas, bayangkan berapa banyak telur emas yang ada di dalam perutnya. Kenapa tidak aku belah saja dan aku ambil semua telur emasnya saat ini.” Memang, si tetangga ini mungkin memahami tentang konsep “a dollar today has more value than a dollar tomorrow”, atau juga ia khawatir akan efek inflasi yang tiada habisnya. Akhirnya ia pun menyembilh angsa ajaib miliknya, membelah perutnya dan tidak menemukan telur emas satu pun di dalamnya. Ya, si tetangga ini telah membunuh mesin penghasil emasnya. Demi mengincar produksi yang berlebih, ia pun mengorbankan kapasitas produksi si angsa dan sekaligus juga produksinya.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 33% [?]