Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja  saya bertemu dengan sahabat lama. Saya perhatikan, penampilannya tambah perlente. Maklum sejak terakhir bertemu delapan tahun yang lalu, kami tidak tinggal satu kota. Secara materi dia sudah sukses. Mungkin delapan tahun tidak bertemu, usahanya tambah maju saja. Singkat kata, kami melepas kangen dengan ngobrol di sebuah restoran yang cukup mewah.

Tengah berbincang santai, pesanan makanan dan minuman datang. Sambil tetap ngobrol, kami langsung makan. Saya perhatikan, sahabat saya tidak terlalu berselera untuk menghabiskan makanan yang tersaji. Padahal dia yang menentukan menu yang kami pesan. Selesai makan, saya tanyakan, mengapa dia terlihat tidak terlalu bersemangat. Dia langsung curhat ke saya tentang anaknya.

“Kamu ingat nggak anakku yang aku kirim ke Belanda untuk kuliah di sana ?”.

Jelas saya ingat, karena waktu keberangkatan anaknya ke Belanda, dia sekeluarga menginap dulu di rumah saya.

“Satu bulan yang lalu dia sudah pulang”. Saya tanya, “Bagaimana studinya?”

Dia langsung berkeluh kesah, “Anakku tidak bisa menyelesaikan studinya. Padahal delapan tahun dia di sana”. Setiap menghadapi masalah tentang pendidikan anak-anaknya, dia memang suka mendiskusikannya dengan saya. Maklum, saya memang praktisi di bidang pendidikan. “Aku pusing memikirkan kegagalan anakku yang satu ini. Tolonglah kamu ajak bicara dia. Aku sangat waswas dengan masa depannya. Tiga hari lagi dia mau ketemu temannya di Surabaya ini, biar sekalian aku suruh mampir ke rumahmu”. Saya sanggupi permintannya, karena anak-anaknya cukup akrab dan cukup terbuka dengan saya.

 

Photo by Lowry Lou - www.flickr.com/photos/87004480@n00

Photo by Lowry Lou - www.flickr.com/photos/87004480@n00

Tiga hari kemudian, anaknya benar-benar datang, juga dengan muka yang muram. Setelah basa-basi sejenak, langsung saya tanyakan apa yang menyebabkan dia terlihat tidak happy. “Ya itu Om, sejak saya pulang dari Belanda, saya jarang diajak bicara dengan ayah saya”. Saya tanyakan, apa yang menyebabkan dia tidak bisa menyelesaikan studinya di Belanda. Di sana, dia mengambil jurusan Teknik Informatika di sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama. Perguruan tinggi itu memposisikan dirinya sebagai sekolah internasional. Jadi bahasa pengantar yang dipakai bukan bahasa Belanda, tetapi bahasa Inggris.

“Setelah dua tahun kuliah, saya baru menyadari, Om. Ternyata teknik informatika bukan bidang yang saya minati, saya sudah konsultasi dengan ayah, tapi ayah meminta saya meneruskan. Pertimbangan ayah saya, sayang sudah dua tahun. Saya sudah berusaha menyelesaikannya sampai enam tahun. Tetapi karena memang tidak enjoy dengan jurusan itu, ya tetap nggak selesai”.

Saya tanyakan padanya mengapa dia di Belanda sampai delapan tahun. Dia katakan dua tahun terakhir dia bekerja di Belanda, untuk cari modal. Saya tanyakan lebih lanjut, bagaimana penguasaan dia dalam sisi bahasa asing ?

“Kalau dari sisi bahasa, saat ini saya juga bisa komunikasi aktif dengan bahasa Inggris dan Belanda. Maklum Om, ketika kuliah, bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Di luar kampus, interaksi dengan orang lokal sana, saya memakai bahasa Belanda, Om”.

Saya tanya lebih lanjut, “Hari ini kamu ke Surabaya, disamping ketemu Om, ada urusan yang lain ?”

“Iya, Om, saya sedang melakukan survey di Surabaya. Saya mau buka usaha, bisnis di bidang kuliner. Waktu kerja di Belanda, saya bekerjanya di restoran. Saya pengin mandiri. Jadi usaha yang sekarang saya rintis, modalnya ya dari hasil kerja disana. Saya tidak ingin dimodali orang lain, Om”.

Waktu delapan tahun (meskipun tidak bisa menyelesaikan teknik informatikanya) ternyata telah dimanfaatkan oleh anak sahabat saya itu dengan cukup efektif. Dia jadi lebih dewasa,  punya pengalaman global, mandiri, punya inisiatif, bisa bicara aktif dalam dua bahasa asing, punya perencanaan matang, dan lain-lain. Dia tinggal menunggu waktu, untuk suatu saat bisa membuktikan pada ayahnya, bahwa sebenarnya, delapan tahun di Belanda itu bukan sia-sia. Dia sudah berhasil. Ijasah itu sebenarnya bukan ukuran sukses yang nyata. Ijasah itu tanda “sukses” yang semu.

Popularity: 36% [?]