October 15th, 2008Baju Muslim Koko Fungsional - Bukan Sekedar Gaya
Saat ini yang namanya baju koko, tahu taqwa atau baju muslim pria semakin beragam saja corak, model dan variasinya. Ini tentu merupakan sebuah trend yg bagus. Namun yg saya heran, kenapa kok kebanyakan baju muslim yg saya tahu kisaran inovasinya melulu di masalah corak atau motif, jenis kain, dan style yg tidak terkait dg fungsionalitas. Fungsionalitas kadang malah dikalahkan oleh tuntutan style dan pertimbangan estetika.
Maksudnya gini; misal saja kita lihat, masih banyak kan baju koko yg ndak punya saku atas. Lho, emg kenapa klo saku atasnya ndak ada? Ya bukannya salah sih, klo emg style-nya gitu ya ga papa. Hanya saja baju kayak gitu kan jadi kurang afdhol utk dipake mengantongi mushaf/Al Qur’an. Masa Al Qur’an mau ditaruh di saku bawah yg sejajar dg kemaluan. Lha pas klo kantong atas udah ada, yg bawah ndak ada. Akibatnya semua barang yg dkantongi di saku atas tumpah pada waktu sujud.
Dan sungguh jelek banget baju koko yg blas ndak punya saku kantong? Lha wong mau wudhu jadi bingung naruh arloji di mana (arloji jelek, ndak tahan air), naruh kacamata di mana, narung songkok di mana.
Tapi inti sebenernya bukanlah perkara banyaknya saku yg ada (eh, masa sih), melainkan tentang betapa pentingnya fungsi saku di baju koko (??!). Pokoknya klo mau ndesain baju, perhatikan dong kebutuhan si pemakai baju, jangan cuma berkutat pada style dan motif baju.
So, definisi masalahnya adalah:
Bagaimanakah model baju koko / baju taqwa yg fungsional, dan yg lebih memfasilitasi hal2 sunnah bahkan?
Menurut saya seperti yg berikut ini:

Saku pertama yg harus ada adalah saku atas yg bentuknya miring ke arah kanan. Kenapa? Karena ini ntar dipake untuk naruh mushaf. Klo dibikin vertikal, ntar mushafnya bisa jatuh klo dipake sujud. Lha kenapa ndak dikasih kancing aja? Bisa, tapi ntar ndak akan efisien bagi mereka yg suka baca mushaf di waktu sholat (untuk bacaan ba’da Al Fatihah).
Lagipula, posisi saku yg miring seperti ini akan lebih ergonomis -memudahkan- tangan kanan untuk mengambil dan meletakkan Al Qur’an dalam saku (assuming ini dilakukan dalam kondisi sholat).
Di sebelah kiri tempat mushaf adalah tempat naruh siwak (yg batangan). Lho, kenapa juga kok siwak?
Siwak itu mensucikan mulut, menyebabkan ridho Allah, dan dia menajamkan pengelihatan.
Dua rokaat dg siwak lebih baik daripada 70 rokaat tanpa siwak.
Seandainya tidak menyulitkan ummatku, sungguh aku akan suruh mereka untuk bersiwak setiap sholat.
(diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim)
Dengan keutamaan seperti itu, maka amat sangat merugi klo sampe siwak ditinggalkan (siwak yg berwujud kayu lho, bukan pasta gigi).
Maka perlu lah kita kasih tempat khusus untuk siwak. Karena klo siwak ini diletakkan di saku biasa, posisi dia bisa berubah jadi horizontal dan nyangkut sedemikian rupa sehingga jadi ribet sekali untuk mengambilnya. Bukan hanya ndak pengen mencampur peletakan siwak ini dengan barang2 lain, namun sunnah peletakan siwak juga adalah dalam posisi tegak berdiri.
Nah, sekarang masalah, banyak yg suka kelupaan pake siwak, padahal sudah mbawa. Maka perlu ada saku lagi (opsional) di lengan sebelah kiri. Dg peletakan di bagian ini, niscaya ketika berwudhu nanti akan kerasa ketika lengan pakaian disingsingkan. Shg siwak bisa digunakan pada waktu afdholnya, yakni pada saat sebelum berwudhu (sebelum berkumur atau membasuh muka)
Panjang saku siwak ini disesuaikan dg panjang rata2 siwak yg sesuai dg sunnah. Jadi siwak ini disunnahkan panjangnya tidak lebih dari sejengkal. Dan pendeknya ndak kurang dari empat jari.
Saku berikutnya adalah saku untuk tempat parfum. Sekarang ini kan sudah banyak dijual model parfum tanpa alkohol yg bentuk kemasannya berbentuk tabung dg panjang 8.5 cm. Nah, ini juga baiknya juga dikasih tempat sendiri, diletakkan dalam posisi berdiri agar tidak kerepotan juga waktu ngambilnya. Kedalamannya sedikit di atas 8.5 cm. Nanti perkara ngambilnya bisa tinggal didorong dari bawah.
Saku berikutnya adalah saku tasbih. Saya pikir ini perlu dipisah, karena ketika dicampur dg kunci, uang, sapu tangan, apalagi siwak, ngambilnya jadi susah; yg mau diambil cuman tasbih, tapi yg ngikut malah semua yg ada di saku. Pun jika tasbih diletakkan di saku besar, jadinya malah menggelembung gendut gitu. Ya sebenarnya sih ndak papa, tapi akan lebih bagus klo dia dbikin bisa tersimpan dalam konfigurasi yg ramping.
Maka untuk saku tasbih ini, ruang sakunya perlu dibikin lebih sempit ketimbang saku yg lain. Ini biar tasbihnya ndak menggelembung. Perkara ngambil yg efisien, maka perlu diawali dulu dg bagaimana cara menaruh yg efisien; yakni kepala tasbih diletakkan paling akhir. Sehingga waktu ngambil, bagian kepala saja lah yg ditarik.
Saku terakhir adalah saku untuk segala yg bukan tasbih, bukan parfum, bukan siwak, dan bukan mushaf apalagi. Mau dikasih hape, arloji, songkok, sarung, sajadah dsb. Terserah. Yg penting ada, dan yg penting saku yg lain sudah tersedia.
Sungguh deh, klo sampe ada baju koko yg modelnya kayak gini, maka saya “pasti” beli.
Popularity: 87% [?]

