October 4th, 2008Beda Persoalan di Sekolah dg Permasalahan di Kehidupan Nyata
Salah satu masalah di pendidikan kita adalah kurangnya kesempatan yg diberikan kepada siswa untuk memecahkan persoalan di dunia nyata. Karena seperti yg bisa dibaca di bawah ini, persoalan dari penugasan sekolah dan persoalan dari kehidupan nyata amatlah berbeda. Kegagalan atau kurangnya pembelajaran siswa dalam memecahkan persoalan di dunia nyata akan mengakibatkan kegagapan ketika sudah masuk usia remaja dan usia produktif bekerja.
Persoalan dari Penugasan di Sekolah |
Persoalan dari Kehidupan Nyata |
| Masalahnya telah dipecahkan hingga sampai berkali-kali sebelumnya, oleh banyak orang | Jika permasalahannya telah pernah dipecahkan, maka ya ndak ada yang namanya masalah kan. |
| Hasrat atau motivasi untuk menyelesaian persoalan relatif rendah. Kan ndak ada yang menderita jika masalah itu tidak terpecahkan. Meskipun berpengaruh pada nilai raport, tapi ya tidak sampai segawat itu lah yang namanya persoalan penugasan sekolah. | Motivasi untuk menyelesaikannya lebih tinggi, karena banyak hal yang tak mengenakkan dan tak diinginkan bisa terjadi bila persoalan tersebut tidak dipecahkan. |
| Sasarannya terdefinisi dengan jelas. | Harus kita sendiri yang mengidentifikasikan arah dan sasaran pemecahan masalahnya. |
| Seluruh informasi yang dibutuhkan telah tersaji dalam definisi persoalan. Jikapun belum ada, maka dengan penggunaan rumus dari informasi yang telah tersedia, maka kita akan bisa dapatkan informasi yang benar dan relevan. | Informasi yang tersedia bagi kita bisa jadi kurang valid, tidak relevan dan bahkan menyesatkan. Beberapa informasi yang sebenarnya penting justru tidak kita temukan. |
| Ada panduan atau arahan untuk memecahkan persoalan yang diberikan. | Ndak mesti. Bisa saja panduan, arahan atau bahkan aturannya ndak ada sama sekali. |
| Biasanya, hanya ada satu saja jawaban yang benar. | Ada banyak solusi yang dimungkinkan. Susah juga untuk mengatakan bahwa satu solusi lebih baik ketimbang yang lain. |
| Ada teman di kiri kanan, atau guru lah paling tidak, yang bisa memberi tahu kita apakah jawaban kita sudah benar ataukah masih salah. Jika jawabannya memang ada lebih dari satu, maka ada orang juga yang bisa memberi tahu kita seberapa baguskah sudah solusi kita. | Hmm, emang siapa sih yang bisa kita tanya? Siapa juga yang bisa ngasih tahu apakah solusi kita akan bener2 bisa berhasil, atau apakah itu memang solusi yang terbaik? |
| Jawabannya biasanya sudah tertulis, entah di halaman belakang bukunya atau dari guru. Yang jelas, kunci jawabannya ada. | Tidak ada yang namanya kunci jawaban. Kita harus mbikin sendiri. Klo kunci jawabannya sudah ada, ndak ada yang namanya masalah. |
| Persoalannya biasanya terkait dg perihal2 yang hanya melibatkan faktor2 yang obyektif dan bisa diukur. | Persoalan kita bisa melibatkan banyak urusan dan kepentingan. Di sana ada banyak informasi ambigu, harapan dan preferensi yang berbeda dari banyak orang, ada perasaan, ada penafsiran. |
| Bahwa itu disebut sebagai persoalan biasanya sudah jelas. Setiap persoalan biasa ditandai dengan nomor. | Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita sedang punya masalah, atau tidak menyadari berapa banyak sebenarnya masalah terselubung di balik masalah yang ada di hadapan kita. |

Mari kita pikir, untuk apa sekolah sekedar mengajarkan apa2 yang teknologi kecerdasan buatan, yakni komputer, lakukan. Misal saja siswa diajarkan untuk mengingat banyak fakta, berhitung, mencari salah kata atau penulisan dan mencari kesalahan gramatikal di tulisan. Itu kan pekerjaan komputer, yang sampai sekarang masih belum memiliki kemampuan problem solving sebaik manusia. Lantas kenapa manusia hanya dilatih untuk bekerja seperti komputer dan tidak dilatih untuk memecahkan masalah sebagaimana yg harusnya kita ahli lakukan?
Apa coba dampak dari lemahnya pelatihan problem solving atas persoalan nyata ini?
Kita lihat, dunia kerja semakin susah menemukan kandidat yg mampu memecahkan permasalahan yg belum pernah terpecahkan sebelumnya. Dan lebih parah lagi, kita juga melihat anak-anak muda kita jadi lebih suka untuk melemparkan masalah mereka kepada orang lain, atau terlalu menggantungkan diri pada orang lain untuk memecahkan masalah mereka.
Gawat, bukan?
Popularity: 25% [?]


October 7th, 2008 at 6:49 am
[...] Sebelumnya, kita perlu dulu bicarakan tentang apa sih sebenarnya yg disebut dg masalah atau persoalan. Guru di sekolah maupun buku pelajaran seringkali menggunakan istilah ‘permasalahan’ atau ‘persoalan’ dalam konteks persoalan matematika, fisika ataupun urusan Pekerjaan Rumah. Tapi dalam blog ini saya tidak bermaksud untuk membahas dalam konteks yang itu. Memang benar sih bahwa persoalan semacam itu memang juga pantes disebut persoalan dalam artian mereka memang cukup menantang sebagai sebuah pembelajaran. Namun persoalan di penugasan sekolah biasanya sudah memiliki jawaban yang paten, seringkali bahkan hanya ada satu saja jawaban yg benar. Sementara di kehidupan nyata, tidak demikian halnya yg terjadi. Intinya, persoalan dari penugasan sekolah memang beda dari yg ada di kehidupan nyata. [...]