November 20th, 2008Berpikirlah Konkrit, Bukan Hanya Di Awang Awang
Jangan berpikir melangit. Untuk memecahkan masalah, Anda (pada akhirnya) harus mengubah pemikiran abstrak menjadi konkrit berdasarkan realitas.
Ketika para pengendara motor diminta pendapatnya tentang BBM yang lebih ramah lingkungan (berpolusi lebih sedikit), maka mereka semua sepakat dan mendukung. Namun ketika mereka diminta untuk membeli sendiri BBM itu yang memang harganya lebih mahal, maka urusannya sudah jadi beda.
Kecuali Anda dihadapkan pada keputusan yang harus segera diambil, maka kebanyakan keputusan biasanya masih masuk di wilayah langit atau abstrak. Memikirkan hal yang konkrit akan mengubah bagaimana Anda mendekati permasalahan.
Coba saja ajukan pertanyaan berikut pada teman2 Anda:
Menurut Anda bagaimanakah kriteria alumni yg ideal, dan untuk mencapai itu apa2 saja yg harus dilakukan oleh mahasiswa sebelum mencapai kelulusannya?
Anda akan dapatkan jawaban seperti:
Seorang alumni harus sudah siap masuk ke dunia kerja, sehingga selama dia kuliah haruslah secara proaktif membekali dirinya dg berbagai kompetensi yg relevan.
Jawaban yg salah? Tidak. Tapi tidak semua orang yg bisa menjawab seperti itu kemudian bisa menjelaskan, “Lantas, konkritnya seperti apa, sih?” atau “Dalam realita, apa yg harus tampak dalam bentuk tindakan dan kebiasaan untuk mencerminkan dari apa2 yg telah Anda sampaikan tadi.”
Memang tidak salah bila kita memberikan jawaban abstrak. Tapi itu bukanlah akhir dari proses pengambilan keputusan, kecuali jika tugas Anda memang sekedar membuat keputusan yg bernilai abstrak. Jika bukan, maka keputusan yg Anda ambil harus bisa terbayangkan secara konkrit, karena dari situlah Anda kemudian bisa menilai feasibility atau tingkat kelayakan sebuah gagasan.
Lebih jauh lagi, gambaran yg konkrit terkait informasi atau bahan2 pengambil keputusan juga bisa memberi pengaruh besar pada jenis keputusan yg diambil. Deborah Small, George Lowenstein, dan Paul Slovic mengadakan penelitian dengan memberikan USD 5 kepada para responded dan lalu mereka diminta untuk mengambil keputusan kepada siapakah uang itu akan disumbangkan. Ada dua informasi yg disampaikan kepada mereka; yg pertama adalah data statistik tentang kekurangan makanan di suatu daerah, dan yg kedua adalah gambar atau foto nyata dari seorang gadis cilik berumur 7 tahun dari daerah Malawi. Maka dari sajian informasi itu, responden cenderung memilih untuk menyumbangkan uang mereka kepada si gadis kecil Malawi. Ini karena mereka telah melihat langsung, terlihat dg jelas konkrit kondisinya seperti apa, dan mereka juga bisa membayangkan secara langsung dampak yg dirasakan oleh si gadis kecil ketika sumbangan itu diberikan kepadanya.
Jika Anda hendak mengambil keputusan yang didasarkan atas statistik atau angka, maka cobalah bayangkan fakta lapangan yang terkait dengan angka itu. Semisal Anda menghadapi statistik tentang angka pengangguran dan kemiskinan, maka bayangkanlah secara riil orang2 pengangguran dan mereka yang menderita akibat kemiskinan. Hal ini akan membuat Anda jadi lebih serius dalam menyikapi masalah, dalam artian Anda akan berpikir lebih jauh dan hati-hati. Anda pun akan punya kepedulian lebih besar pada hasil akhir dari keputusan itu nantinya.
Sehingga jika semisal saja Anda diminta untuk mengambil keputusan semacam berikut ini:
Untuk teman Anda: “Aku punya uang nih, tolong dong pilihkan enaknya aku invest di bisnis apa, ya?”
Untuk anak Anda; Ke sekolah manakah anak Anda akan meneruskan pendidikannya?
Sobat dekat Anda, “Siapa ya orang yg cocok untuk aku nikahi?” atau bertanya ke Anda “Kamu jadinya mau nikah sama sapa?”
Maka pikirkan sampai ke tataran konkrit. Jangan hanya dibayangkan abstrak di awang2.
Popularity: 23% [?]

