Sepertinya salah satu komponen terpenting dari berpikir kreatif adl adanya keyakinan bahwa pasti ada jawaban atas permasalahan kita. Bila Anda tahu apa yg hendak diraih, apakah itu memahami struktur partikel sub atomik atau mencari cara untuk memulihkan angka penjualan, Anda harus meyakini bahwa hal itu mungkin. Keyakinan semacam ini akan membakar proses kreatif. Henry Ford mengatakan,”Apakah Anda meyakini bahwa Anda bisa, ataukah meyakini bahwa Anda tidak bisa, Anda sama2 benarnya.”


Alexander Graham Bell menemukan telepon sebagai hasil dari kesalahpahaman. Dia membaca deskripsi dari sebuah penemuan yg tertulis dlm bahasa jerman. Dia pikir tulisan itu menyebutkan bahwa instrumen yg dia lihat itu memiliki fungsi sebagaimana layaknya sebuah telepon. Sehingga, terinspirasi oleh hal itu, dia kemudian mengembangkan teleponnya sendiri. Lalu dia baru menyadari bahwa penemuan dari Jerman yg dia lihat itu sebenarnya punya fungsi yg benar2 berbeda dari yg dia sangka sebelumnya. Namun kemampuan kreatifnya untuk menciptakan telepon telah diletupkan oleh keyakinan bahwa hal itu mungkin untuk dilakukan.

Ilmuwan lain membaca tentang penemuan mikroskop elektron. Namuun dia tidak punya gambaran bagaimana cara kerjanya. Sehingga dia mengembangkan tiga cara yg berbeda untuk melakukannya. Ketika dia memeriksa daftar paten, dia temukan bahwa dia telah menduplikat penemuan aslinya dg salah satu yg telah dia ciptakan. Namun, dua dari metode ciptaannya yg lain, salah satunya memiliki superioritas ketimbang gagasan aslinya dah malah membuat patennya menjadi usang.

Salah satu kunci untuk meyakini bahwa jawaban pasti bisa ditemukan terletak pada bagaimana mencari pertanyaan yg tepat. Bell menanyakan pada dirinya sendiri bagaimana dia bisa menciptakan sebuah penemuan yg bisa menyalurkan suara dalam jarak tertentu melalui sebuah kabel, dan mengajukan pertanyaan yg tepat mengarhkannya pada penemuan yg sedemikian menghebohkan. Ketika ditanya peristiwa tunggal apakah yg paling membantunya dalam mengembangkan Teori Relativitasnya, Einstein menjawab,”Mencari tahu bagaimana cara memikirkan masalahnya.”

Untuk mendekati sebuah permasalahan dg pemikiran lateral, seringkali akan membantu bila Anda tanyakan pada diri,”Apa sih yg benar2 hendak aku capai di sini… dan bisa kah aku mencapainya dg cara lain?” Dg kata lain, keluarlah dari masalahnya dan berjalanlah keluar darinya, periksalah dari sudut yg berbeda. Dari sini lah Anda akan menyadari bahwa Anda tidak sedang bermaksud untuk menelpon teman Anda semisal, melainkan secara hakikat adalah utk berkomunikasi dgnnya. Banyak sekali pemikiran non-kreatif disebabkan dari kemacetan dalam pola berpikir, dan membuat pertanyaan yg benar untuk diajukan seringkali menjadi bibit dari penemuan solusi.

Popularity: 8% [?]