Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Ini adalah tahapan setelah Fase Inspirasi, meskipun di antara itu Anda bisa menyelinginya dengan Fase Klarifikasi. Dalam tahap ini, Anda memeriksa gagasan yang telah dihasilkan dan mencoba menentukan aktivitas apa saja yang muncul darinya. Dari sini, gagasan dari Fase Inspirasi disaring dengan kriteria2 yg dirumuskan di Fase Klarifikasi. Gagasan terbaik dipilih untuk pengembangan lebih jauh, atau dikombinasikan menjadi gagasan yg bahkan lebih baik.
Distilasi adalah tahap berpikir kritis terhadap diri sendiri. Tahap ini membutuhkan anlisis dan penilaian dengan kepala dingin, dan bukannya dengan spontanitas acak yg biasanya malah akan membingungkan. Tempat spontanitas adalah di Fase Inspirasi, jika Anda menggunakannya di Fase Distilasi, maka gunakan untuk melakukan pengembangan dan penggabungan gagasan yg sudah ada. Boleh sih keluarkan gagasan yg benar2 baru, tapi jangan sampai liar.
Di fase ini ada jebakan yg perlu diwaspadai, yakni manakala Anda lebih mencenderungkan diri untuk menggarap gagasan yg Anda telah familiar dengannya, dan bersikap pilih kasih pada gagasan2 yg benar2 baru.
Popularity: 30% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Ini adalah tahapan setelah fase Inspirasi. Pada tahap ini kita mengajukan pertanyaan kunci sebagai berikut:
- Apa sih yang ingin aku capai?
- Apa yang aku ingin sampaikan?
- Masalah apa sih yang sebenarnya ingin aku pecahkan?
- Hasil akhir seperti apa yang ingin aku hasilkan?
- Gimana biar aku bisa manfaatkan gagasan ini?
- Gagasan ini membawa aku ke mana? Apa yang bisa aku lakukan terhadapnya?
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 32% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Dalam fase inspirasi, kita berusaha menghasilkan gagasan sebanyak mungkin. Ini adalah tahap penelitian atau pembangkitan gagasan. Proses ini dimaksudkan untuk berjalan tanpa penghalang dengan penuh spontanitas, eksperimentasi, intuisi dan juga pengembilan risiko.
Banyak orang bertanya-tanya,”Dari mana sih orang2 kreatif menemukan gagasan bagus mereka?” Jawabnya tidak lain adalah di antara tumpukan besar gagasan2 jelek. Kreativitas adalah seperti penambangan berlian, meski sebagian besar besar hasil galian itu dibuang, tapi tidak lantas boleh dibilang bahwa proses penggalian yg Anda lakukan membuang2 waktu. Anda tak akan bisa sampai pada gagasan luar biasa jika Anda tidak terlebih dahulu menggali sekian banyak gagasan jelek.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 32% [?]
Ditulis oleh: Kreshna Aditya

How to Get Ideas by Jack Foster
Apa saja langkah-langkah yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan ide? Dalam bukunya, How to Get Ideas, Jack Foster justru menuliskan beberapa pendapat pakar-pakar lain tentang langkah penciptaan ide. Misalnya, Hemholtz, seorang filsuf Jerman menyebutkan ada tiga langkah yang ia gunakan untuk menciptakan pemikiran baru. Pertama, tahap persiapan, di mana dia menginvestigasi masalah yang dihadapi “dari segala sisi”. Kedua, tahap inkubasi, di mana dia tidak lagi secara sadar memikirkan masalah tersebut. Ketiga, tahap iluminasi, yaitu saat di mana ide “muncul begitu saja tanpa disadari dan tanpa diusahakan” layaknya sebuah inspirasi. Pakar lain, James Webb Young, dalam bukunya A Technique for Producing Ideas, menggambarkan lima langkah penciptaan ide. Pertama, pengumpulan “bahan mentah” atau informasi yang diperlukan untuk menganalisa masalah. Kedua, menganalisa informasi secara mendalam. Ketiga, meninggalkan masalah dan tidak memikirkannya sama sekali. Keempat, tiba-tiba ide akan muncul secara tidak terduga. Kelima, mengubah ide menjadi kenyataan. Terakhir, Charles S. Wakefield, penulis buku Predator of the Universe: The Human Mind, menyebutkan tentang lima langkah mental saat proses penciptaan ide kreatif. Yang pertama adalah kesadaran akan masalah yang dihadapi. Kedua, pendefinisian masalah. Ketiga, pemahaman akan masalah dan data-data faktual yang terkait dengannya. Keempat, periode inkubasi dan masa tenang. Kelima, saat munculnya “ledakan”, yaitu munculnya ide yang sepertinya tidak melalui tahap pemikiran logis dan terurut. Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 43% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Seperti tubuh, otak juga punya irama kerja. Irama otak lebih banyak ditentukan oleh pola tidur, paparan cahaya dan faktor genetika. Nah, apabila Anda ingin lebih efektif, efisien, dan produktif dalam bekerja, Anda dapat menggunakan kekuatan otak. Karena otak punya jam-jam terbaik untuk dimanfaatkan dan ternyata tak hanya berpengaruh terhadap pekerjaan namun juga pada kesehatan kita. Yuk, kita simak waktu irama otak yang terbaik saat bekerja.
Pukul 09.00-11.00
Waktu Terbaik untuk Mencari Ide
Pada waktu ini, hormon stres kortisol Anda berada dalam kadar sedang. Hal ini akan sangat membantu Anda untuk berpikir fokus. Menariknya, kondisi ini dialami oleh semua golongan umur.
Gunakan waktu ini untuk: mengerjakan tugas yang membutuhkan analisis dan konsentrasi, mengembangkan ide-ide baru, membuat presentasi, dan brainstorming mencari solusi tantangan besar atau kecil. Bagi yang mulai memasuki usia paruh baya, pikiran akan lebih jernih di pagi hari sehingga mulailah atur jadwal untuk berdiskusi masalah pekerjaan atau pribadi.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 32% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Coba deh Anda lakukan apa yg saya namakan sebagai Semburan Daya Kreatif. Ini adalah sesi singkat di mana Anda mencoba untuk menjadi sekreatif mungkin dalam medium yg Anda pilih.
Caranya seperti ini…
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 29% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Kita ini kan diberi kemampuan oleh Tuhan untuk bisa merasakan banyak sekali sensasi emosi. Namun dalam keseharian biasanya kita sudah lupa dg sekian banyak ragam emosi yg harusnya bisa kita rasakan. Tidak hanya itu, kita ternyata punya lebih banyak perbendaharaan emosi negatif ketimbang yg positif.
Coba aja deh; bosen, frustasi, bingung, depresi, marah, sebel…. nama-nama emosi negatif ini rasa-rasanya kok lebih banyak ketimbang emosi positif seperti bahagia, senang (bedanya apa coba), tentram, sumringah…. ah… masih lebih banyak emosi negatif deh ya.
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 29% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Warna jelas-jelas merupakan elemen yang amat kuat secara visual kita indera. Setiap warna memiliki asosiasi dan koneksi terhadap sesuatu yg unik spesifik. Lebih jauh lagi, setiap warna juga bisa memicu beragam perasaan dan reaksi.
Coba deh Anda bayangkan, lalu pikir atau rasakan warna “merah”, misal saja. Bayangan apa yang pertama terlintas di pikiran?
Klo saya, yang langsung terpikir tu darah, tanda larangan, semangat, PDIP, dan kemarahan. Merah juga merupakan warna dari mousepad saya, arloji Casio lama saya, beberapa desktop wallpaper favorit saya, spidol whiteboard, dan beberapa yang lain…
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 29% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
1. Mitos: Kreativitas itu adalah apa-apa yang Anda LAKUKAN dan MILIKI
Kenyataan: Kreativitas adalah apa-apa yang Anda MENJADI. Dia adalah karakter, bukan sekedar kata kerja ataupun kepemilikan.
2. Mitos: Kreativitas tu artinya membuat sesuatu dari yang belum ada
Kenyataan: Kreativitas itu artinya membuat hubungan (yg seringkali tak nampak) dari apa-apa yang sudah ada
3. Mitos: Untuk bisa jadi kreatif, perlu diikuti proses-proses yang baku dan resmi
Kenyataan: Ada banyak proses dan metode berpikir kreatif, masing-masing punya fungsinya sendiri-sendiri
4. Mitos: Kreativitas didapat (utamanya) dari kerja keras dan (sebagiannya) dari inspirasi
Kenyataan: Kreativitas didapat baik dari pemaksaan diri untuk menciptakan sesuatu dan juga mempertajam inspirasi sambil jalan. Tidak ada pembobotan yg baku. Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 15% [?]
Ditulis oleh: Akhmad Guntar
Adalah sangat penting bagi kita untuk bisa membentuk ruangan atau atmosfer pendukung kreativitas, entah untuk urusan pekerjaan maupun kesenangan. Kebanyakan orang akan cenderung lebih bisa berpikir kreatif manakala mereka:
- Merasa nyaman - baik secara emosional maupun fisik
- Tidak merasa tertekan atau stress
- Mampu membuat dirinya rileks
- Bisa menghindarkan diri dari pengalih-perhatian secara konsisten
- Memiliki kemampuan untuk memfokuskan diri pada pekerjaan di hadapannya
- Tidak miliki ketakutan akan penolakan dan kritik
Baca lanjutan dari tulisan ini »
Popularity: 16% [?]