November 30th, 2008Antara Sukses dan Gagal

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja  saya bertemu dengan sahabat lama. Saya perhatikan, penampilannya tambah perlente. Maklum sejak terakhir bertemu delapan tahun yang lalu, kami tidak tinggal satu kota. Secara materi dia sudah sukses. Mungkin delapan tahun tidak bertemu, usahanya tambah maju saja. Singkat kata, kami melepas kangen dengan ngobrol di sebuah restoran yang cukup mewah.

Tengah berbincang santai, pesanan makanan dan minuman datang. Sambil tetap ngobrol, kami langsung makan. Saya perhatikan, sahabat saya tidak terlalu berselera untuk menghabiskan makanan yang tersaji. Padahal dia yang menentukan menu yang kami pesan. Selesai makan, saya tanyakan, mengapa dia terlihat tidak terlalu bersemangat. Dia langsung curhat ke saya tentang anaknya.

“Kamu ingat nggak anakku yang aku kirim ke Belanda untuk kuliah di sana ?”.

Jelas saya ingat, karena waktu keberangkatan anaknya ke Belanda, dia sekeluarga menginap dulu di rumah saya.

“Satu bulan yang lalu dia sudah pulang”. Saya tanya, “Bagaimana studinya?”

Dia langsung berkeluh kesah, “Anakku tidak bisa menyelesaikan studinya. Padahal delapan tahun dia di sana”. Setiap menghadapi masalah tentang pendidikan anak-anaknya, dia memang suka mendiskusikannya dengan saya. Maklum, saya memang praktisi di bidang pendidikan. “Aku pusing memikirkan kegagalan anakku yang satu ini. Tolonglah kamu ajak bicara dia. Aku sangat waswas dengan masa depannya. Tiga hari lagi dia mau ketemu temannya di Surabaya ini, biar sekalian aku suruh mampir ke rumahmu”. Saya sanggupi permintannya, karena anak-anaknya cukup akrab dan cukup terbuka dengan saya.

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 36% [?]

November 20th, 2008Sesatnya Pembinaan

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Hari ini, Kamis 27 Nopember 2008, siang hari pukul 13.00, saya berhenti di sebuah perempatan jalan diSurabaya, menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Penjual koran menawarkan dagangannya. Adajudul di salah satu koran yang membuat saya langsung mengernyitkan dahi. “Ryan Pimpin Pesantren Napi”, itulah judul yang membuat saya mengelus dada.

Berita tentang Ryan, pembunuh berantai dari Jombang, yang saat ini sedang dalam proses pengadilan, sudah sekian lama mengisi media massa, baik cetak maupun elektronik. Salah satu yang diberitakan, Ryan dulu pernah jadi guru ngaji.

Salah satu fungsi dan tugas lembaga pemasyarakatan memang memberi pembinaan kepada para narapidana. Jika disimak dari pengalaman Ryan, dimana dia mempunyai kemampuan baca tulis huruf Arab, sepintas tidak salah jika dia sekarang disuruh memimpin pesantren untuk para napi. Sekali lagi, itu pemikiran sepintas, sesaat. Pemikiran sepintas adalah pemikiran yang tidak mendalam. Jika kita telaah lebih dalam, banyak hal bisa dipertanyakan.

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 12% [?]

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Akhir-akhir ini, ada dua istilah yang selalu menjadi perbincangan dan perhatian banyak kalangan. Dua istilah itu adalah “ekonomi kreatif” dan “industri kreatif”. Dalam buku “Misteri Otak Kanan Manusia” yang ditulis oleh Daniel H.Pink, disebutkan tentang sebuah pergeseran seismik yang sedang berproses di dunia maju. Kita bergerak dari sebuah perekonomian dan masyarakat yang dibangun pada kemampuan-kemampuan era informasi yang logis, linear mirip seperti komputer, kepada suatu perekonomian dan masyarakat yang didasarkan pada kemampuan-kemampuan berprespektif luas, kreatif, dan empatik.

A Whole New Mind by Daniel H. Pink

A Whole New Mind by Daniel H. Pink

Pemerintah kita kelihatannya juga sudah mengantisipasi tentang ekonomi kreatif dan industri kreatif yang dianggap sebagai era ekonomi gelombang ke empat. Terbukti pada 4 Juni 2008, menteri perdagangan Mari Ella Pangestu menyerahkan cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2025 dan Pengembangan 14 Sektor Ekonomi Kreatif kepada Presidan RI Susilo Bambang Yudhoyono. Acara penyerahan tersebut berlangsung pada saat pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) 2008 di Jakarta Convention Center (JCC). Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 11% [?]

November 1st, 2008Pendidikan Harus Berubah Total

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Salah satu fungsi pendidikan adalah membekali anak didik untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses menyongsong masa depannya. Untuk bisa memenuhi fungsi itu, dunia pendidikan harus terbiasa melakukan perubahan-perubahan dalam “dirinya” agar bisa beradaptasi dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Dunia pendidikan tidak akan bisa membekali anak didik untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perubahan, kalau “dirinya” sendiri enggan beradaptasi dan mengantisipasi perubahan.

Foto by Aji Wibi - www.flickr.com/photos/webee

Foto by Aji Wibi - www.flickr.com/photos/webee

Dunia pendidikan Indonesia selama ini sangat lambat beradaptasi, apalagi mengantisipasi perubahan. Ini contoh sederhana. Sudah lama rumah sakit-rumah sakit itu perawatan pasien diklasifikasikan dalam kelompok-kelompok tertentu. Ada bagian anak-anak, ada bagian dewasa, ada bagian penyakit menular, dll. Coba kita perhatikan, pendidikan keperawatan di negara ini sampai sekarang, mayoritas masih memberikan pendidikan keperawatan secara umum. Belum terspesialisasi sesuai yang ada di rumah sakit, misal pendidikan perawat untuk anak, perawat untuk dewasa, perawat untuk penyakit menular, perawat untuk jompo, dll. Bahkan kalau perlu, pendidikan super spesialis keperawatan, misal pendidikan perawat untuk pasien bedah tulang, pendidikan perawat untuk pasien penyakit kanker, dll. Bidang-bidang yang lain, sama saja, tidak ada perubahan yang berarti. Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 13% [?]


© 2008 Bloom! Laboratory | Wordpress Theme by Windows Vista Administration | Powered by Wordpress