September 21st, 2008Enam Macam Kesalahan Berpikir
Acapkali kita ditipu mentah-mentah, dengan dikarenakan adanya pengacauan intelektual dengan cara yang halus.
Kesalahan2 dalam berpikir (Intellectual cul-de-sac) ada enam macam yaitu :
1. Fallacy of Dramatic Instance
- Fallacy of dramatic instance (FoDI) berawal dari kecenderungan orang untuk malakukan over generalization, yaitu, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general/umum.
- Kesalahan berpikir ini agak sulit untuk dibantah
- Seringkali diambil dari pengalaman pribadi seseorang, seperti perkataan “Karena saya tidak mengalami apa-apa, pastilah orang lain juga tidak mengalami apa-apa”
- Contoh lain adalah menilai seseorang dengan ukuran ‘saya yang lampau’
- Menurut Alfred Korzybski, ada baiknya dalam berpikir kita melakukan dating (penanggalan). Cara lain adalah menggunakan pembuatan index (Indexing), misal batak 4 tidak sama dengan batak 1, batak 2, batak 3.
2. Fallacy of Retrospective Determinism
- Untuk menjelaskan kebiasaan orang yang menganggap masalah sosial yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang.
- Contoh mengenai pelacuran. Perkataan “sepanjang sejarah pelacuran itu ada dan tidak bisa dibasmi. Oleh karena itu kita seharusnya tidak melarangnya, akan tetapi melokalisasikannya’.
- Cara berpikir ini menggunakan acuan kembali kebelakang (restropective=melihat ke belakang)
- Cara mengaturnya dengan menggunakan management of conflict
3. Post Hoc Ergo Propter Hoc
- Istilah ini berasal dari bahasa latin post artinya sesudah;hoc artinya demikian; propter artinya demikian. Singkatnya : sesudah itu – karena itu – oleh sebab itu. Jadi ada urutan temporal.
- Misalnya si X datang sesudah si Y. maka si X dianggap sebagai sebab dan si Y sebagai akibat.
- Misal membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan pulpen Z, dan kemudian pulpen ini anda gunakan untuk ujian, dan anda lulus. Tak lama kemudian ortu anda mengirimkan uang pada anda, anda akan sangat mencintai pulpen itu. “ ini bukan sembarang pulpen!” kata anda. “Pulpen ini mengandung keberuntungan”
4. Argumen of Verecundiam
- Berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu tidak relevan atau ambigu. Otoritas itu sesuatu atau seseorang yang sudah diterima kebenarannya secara mutlak, seperti Al Qur’an dan Rasulullah.
- Apabila si A menyatakan ayat sekian dari surah sekian dalam Al Qur’an menjelaskan definisi perjuangan qur’ani, maka sebenarnya si A tadi telah melakukan kesalahan berpikir. Karena ayat tersebut bisa ditafsirkan secara berlainan oleh orang lain.
- Cara menanggulangi yaitu menambahkan frasa “menurut saya”. Seringkali orang pertama memaksa lawan bicara untuk diam, tidak membantah, bahkan mengkafirkan yang membantah (dengan alasan membantah AL qur’an itu sendiri). Padahal, andaipun lawan ingin membantah, maka yang dibantah bukan Al qur’an, melainkan penggunaan otoritas Al qur’an yang ditafsirkan oleh orang pertama.
5. Fallacy of Composition
- Al qur’an memperingatkan agar ada segolongan diantara kita yang mempelajari agama, dan tidak ikut berperang. Hal ini untuk menghindari Fallacy of composition.
- Misal ada orang yang beragama dengan baik. Ia terkenal sebagai sarjana yang baik dan beramal saleh. Ia memusatkan belajar agama sejak kecil sampai dia menjadi ulama. Ia berjuang untuk islam dan jadi ulama yang baik. Kesimpulannya, ‘kalau begitu semua orang harus dicetak seperti dia”. Padahal repot juga kalau semua menjadi ulama.
6. Circular Reasoning
- Artinya pikiran yang berputar-putar; menggunakan konklusi (kesimpulan) untuk mendukung yang digunakan lagi untuk menuju konklusi semula.
- Contoh “apabila organisasinya dikembangkan dengan baik, maka program transmigrasi akan berjalan dengan lancar” ketika ditanya “apa buktinya bahwa organisasi itu berjalan dengan lancar”. Jawabannya “kalau programnya lancar’, kalau ditanya lagi “ kalau programnya lancar, apa artinya?” , dijawab artinya pengembangan organisasinya baik” . inilah yang disebut circular reasoning. Hal ini sama dengan “apabila seorang manusia perempuan, maka dia pasti wanita”
Popularity: 22% [?]

