Ada seorang penulis bernama Gay Talsese yg ketika dia berada dalam tenggat yg ketat, terkadang ia menggantungkan salinan tulisannya agak jauh di ruangannya lalu membacanya dari sebuah teropong pembesar. Kebiasaan yg aneh. Tapi dg melakukan hal itu, dia serasa bisa melihat gagasannya dalam mata dan cara pandang yg berbeda. Dengannya, dia jadi merasa ada jarak antara dia dan gagasannya.
ilusi istana perspektif pemecahan masalah dan jarak dari masalah

Lho, kenapa dia sampai harus melakukan itu? Kenapa kok sampe harus repot2 menjaga jarak dari masalah atau pekerjaan kita?

Coba Anda ingat baik2, jika Anda diminta untuk menyelesaikan masalah, mudah mana, antara menyelesaikan masalah orang lain dg menyelesaikan masalah diri sendiri?

Tentu Anda menjawab lebih mudah menyelesaikan masalah orang lain, bukan?

Most people spend more time and energy going around problems than in trying to solve them.

Mengapa? Karena terhadap permasalahan sendiri, seringkali kita tidak bisa menjaga jarak dengannya, sedemikian rupa sehingga kita merasakan segala kekalutan, rasa tak nyaman, gerah, bete dan sebagainya. Itu semua pada akhirnya membuat kita jadi susah untuk menemukan pemecahan masalah. Beda halnya ketika kita menyelesaikan masalah orang lain. Meskipun kita sudah berempati dan bersimpati sekalipun, tetap saja kita masih bisa menempatkan diri kita pada jarak yg kondusif untuk bisa mencari pemecahan masalah.

Oleh karena itu, jika kita sedang dihadapkan pada permasalahan besar, maka kita akan senang bila kita diberi waktu hingga beberapa hari untuk memutuskannya.

“Segera tentukan dg siapa kamu akan menikah dari empat pilihan yg kamu punya? dan kapan akadnya; mau sebulan lagi atau dua bulan lagi?!”

Itu keputusan yg besar, dan biasanya kita akan meminta waktu untuk menjawabnya. Entah kita kemudian pergi ke daerah kebun teh di Pandaan Malang atau Gunung Bromo, yg jelas kita biasanya butuh waktu untuk merenungi masalah kita.

Nah, tapi bagaimana bila Anda ternyata tak punya banyak waktu untuk mengambil keputusan. Ketika sudah masuk pada penawaran gaji di wawancara kerja, Anda harus segera beri jawaban pada saat itu juga. Ketika hendak membeli mobil di sebuah expo, sang penjual berharap Anda bisa segera beri jawaban sebelum Anda meninggalkan showroom. Ketika keluarga atau kerabat Anda sedang menderita luka akibat kecelakaan (na’udzubillaahi min dzaalika), maka dokter menuntut Anda segera mengambil keputusan untuk bisa segera mengoperasi. Tenggat selalu datang dan pergi. Anda harus ambil keputusan, dan harus cepat.

Bila Anda tidak bisa mendapatkan waktu yg longgar, maka mau tak mau Anda harus belajar mengubah perspektif terhadap masalah Anda. Ini adalah kemampuan yg penting mengingat seringkali seseorang menjadi lumpuh dalam menghadapi masalahnya karena terbebani oleh rasa khawatir yg berlebihan.

Worry is like a kuda lumping chair - it gives you something to do but won’t get you anywhere

Untuk ini, maka perspektif pertama yg perlu kita miliki adalah bahwa di setiap masalah pasti ada pemecahan. Ini adalah apa yg kitab suci ummat Islam sebutkan di surat Alam Nashrah. Jadikan perspektif ini sebagai keyakinan.

Verily, along with every hardship is relief. For every problem, there’s an alternative course of action.

Baru setelah itu kita kemudian bisa lebih produktif dalam menyerbu masalah kita. Kita mulai dari yg sederhana; berpindahlah posisi atau lokasi. Jangan terlalu lama berada di satu tempat, gerakkan tubuh Anda, karena motion bisa menggerakkan emotion. Jalan-jalanlah ke luar, ambil wudhu dan sholat, bernafaslah dalam2. Sekarang coba pisahkan diri Anda dari masalah Anda. Ini Anda lakukan dg membayangkan di benak Anda sedang melihat diri Anda di jarak 5 s.d 10 meter di depan Anda. Bayangkan Anda melihat diri Anda sedang merenung memikirkan masalah.

Nah, sekarang cobalah bersikap seperti orang lain; apakah yg akan Anda katakan pada orang di depan Anda dg masalahnya? Coba Anda lakukan dialog dg dia yg di depan Anda. Tanyakan apa masalah sebenarnya, dan lalu tanggapi sebagaimana Anda memberi tanggapan pada teman yg lagi curhat kepada Anda.

Saya tahu ini terkesan aneh, bukankah dua2nya itu ya Anda sendiri. Tapi yakinlah, cara ini efektif, dan juga tidak susah untuk melakukannya. Anda akan temukan bahwa Anda ternyata punya lebih banyak pemecahan ketimbang yg sebelumnya pernah terbayang.

perspektif pemecahan masalah ambil jarak
perspektif pemecahan masalah ambil jarak
perspektif pemecahan masalah ambil jarak

Cara berikutnya, Anda menjadi diri sendiri, lalu coba bayangkan Anda mengkonsultasikan masalah Anda kepada orang lain, entah siapapun yg Anda pilih. Bahkan jika Anda belum pernah bertemu secara pribadi dengannya pun tak mengapa. Anda punya tokoh idola, tanyakan masalah Anda padanya. Jika Anda telah cukup mengenalnya, Anda pasti akan tahu bagaimana tanggapan yg keluar dari lisannya. Maka lakukan dialog itu dalam benak Anda.

Jika Anda bertanya pada teman Anda yg seorang pengusaha, bagaimanakah jawabannya? Jika Anda bertanya pada dosen Anda, bagaimana pula dia akan menjawabnya? Jika Anda bertanya pada ibu penjual nasi di depan kost -bayangkan saja- maka bagaimana kira2 jawaban dia?

Anda pasti bisa membayangkannya. Dan ini semua adalah dalam rangka mencari perspektif baru untuk lebih memahami masalah Anda.

Popularity: 22% [?]