December 4th, 2008Setiap Otak Kita Itu Unik

Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Setiap Otak Manusia Itu UnikPara ilmuwan telah mengkonfirmasi bahwa setiap otak manusia itu unik, sama halnya seperti sidik jari di jempol kita. Koneksi antar sel yang dibentuk oleh pengalaman membentuk peta kognitif yang sifatnya benar-benar unik. Peta berpikir dan persepsi kita sangatlah bervariasi dan memperlihatkan fluktuasi yang besar dalam batasan-batasannya sepanjang waktu. Dalam sistem visual kita saja, kita memiliki lebih dari tiga puluh pusat interkoneksi otak, yang masing-masing memiliki peta sendiri-sendiri. Pembelajaran terjadi ketika peta-peta ini, di mana jaringan sel-sel saraf saling berbicara satu sama lain. Semakin terkoneksi jaringan-jaringan itu, semakin besar pemaknaan yang diperoleh seseorang dari pembelajaran. Setiap koneksi ini bisa mempunyai lima puluh sampai seratus ribu neuron atau sel otak di dalamnya.
Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 16% [?]

December 1st, 2008Menjaga Kapasitas Produksi

Ditulis oleh: Kreshna Aditya

Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People menjelaskan tentang sebuah konsep menarik, yaitu Production/Production Capacity (P/PC). Konsep P/PC ini menegaskan tentang pentingnya kita menjaga kapasitas produksi diri kita sendiri. Stephen Covey mengambil analogi kisah angsa bertelur emas. Inti ceritanya adalah seorang yang budiman, atas hadiah dari suatu amal baiknya, berhasil mendapatkan seekor angsa yang dapat bertelur emas setiap harinya. Telur-telur ini ia jual dan dipakai untuk memenuhi segala kebutuhannya. Setiap harinya ia merawat dengan baik angsa ajaib tersebut. Tetangganya, yang tidak terlalu baik, menjadi iri dan mencari tahu rahasianya mendapatkan angsa yang dapat bertelur emas. Singkat cerita, sang tetangga juga berhasil mendapat angsa bertelur emasnya sendiri. Karena pada dasarnya memang tidak baik, si tetangga yang juga tidak sabaran ini berpikir, “Bila tiap hari angsa ini dapat bertelur emas, bayangkan berapa banyak telur emas yang ada di dalam perutnya. Kenapa tidak aku belah saja dan aku ambil semua telur emasnya saat ini.” Memang, si tetangga ini mungkin memahami tentang konsep “a dollar today has more value than a dollar tomorrow”, atau juga ia khawatir akan efek inflasi yang tiada habisnya. Akhirnya ia pun menyembilh angsa ajaib miliknya, membelah perutnya dan tidak menemukan telur emas satu pun di dalamnya. Ya, si tetangga ini telah membunuh mesin penghasil emasnya. Demi mengincar produksi yang berlebih, ia pun mengorbankan kapasitas produksi si angsa dan sekaligus juga produksinya.

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 33% [?]

November 30th, 2008Antara Sukses dan Gagal

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja  saya bertemu dengan sahabat lama. Saya perhatikan, penampilannya tambah perlente. Maklum sejak terakhir bertemu delapan tahun yang lalu, kami tidak tinggal satu kota. Secara materi dia sudah sukses. Mungkin delapan tahun tidak bertemu, usahanya tambah maju saja. Singkat kata, kami melepas kangen dengan ngobrol di sebuah restoran yang cukup mewah.

Tengah berbincang santai, pesanan makanan dan minuman datang. Sambil tetap ngobrol, kami langsung makan. Saya perhatikan, sahabat saya tidak terlalu berselera untuk menghabiskan makanan yang tersaji. Padahal dia yang menentukan menu yang kami pesan. Selesai makan, saya tanyakan, mengapa dia terlihat tidak terlalu bersemangat. Dia langsung curhat ke saya tentang anaknya.

“Kamu ingat nggak anakku yang aku kirim ke Belanda untuk kuliah di sana ?”.

Jelas saya ingat, karena waktu keberangkatan anaknya ke Belanda, dia sekeluarga menginap dulu di rumah saya.

“Satu bulan yang lalu dia sudah pulang”. Saya tanya, “Bagaimana studinya?”

Dia langsung berkeluh kesah, “Anakku tidak bisa menyelesaikan studinya. Padahal delapan tahun dia di sana”. Setiap menghadapi masalah tentang pendidikan anak-anaknya, dia memang suka mendiskusikannya dengan saya. Maklum, saya memang praktisi di bidang pendidikan. “Aku pusing memikirkan kegagalan anakku yang satu ini. Tolonglah kamu ajak bicara dia. Aku sangat waswas dengan masa depannya. Tiga hari lagi dia mau ketemu temannya di Surabaya ini, biar sekalian aku suruh mampir ke rumahmu”. Saya sanggupi permintannya, karena anak-anaknya cukup akrab dan cukup terbuka dengan saya.

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 36% [?]

Ditulis oleh: Akhmad Guntar

homer simpsons kesalahan keputusanPada 1953, karir James Burke di Johnson & Johnson hampir berakhir bahkan sebelum ia sempat memulainya. Segera setelah dia masuk di perusahaan, dia dipercaya sebagai direktur produk untuk beberapa ragam obat-obatan untuk anak. Seluruhnya gagal - gagal berjuta-juta dollar. Dia pun dipanggil ke kantor atasan, dan beranggapan kuat dia akan dipecat. Namun ternyata atasan tertinggi Johnson berkata padanya bahwa bisnis ini adalah tentang pengambilan keputusan. Anda tidak membuat keputusan tanpa kemudian berbuat kesalahan. Yang penting jangan sampai membuat kesalahan dua kali. Lagipula, perusahana sudah berinvestasi jutaan dollar untuk edukasi si James Burke ini. Klo sudah begitu, masa perusahaan mau dengan mudahnya melepaskan Burke.

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 21% [?]

Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Ini adalah tahapan setelah Fase Inspirasi, meskipun di antara itu Anda bisa menyelinginya dengan Fase Klarifikasi. Dalam tahap ini, Anda memeriksa gagasan yang telah dihasilkan dan mencoba menentukan aktivitas apa saja yang muncul darinya. Dari sini, gagasan dari Fase Inspirasi disaring dengan kriteria2 yg dirumuskan di Fase Klarifikasi. Gagasan terbaik dipilih untuk pengembangan lebih jauh, atau dikombinasikan menjadi gagasan yg bahkan lebih baik.

Distilasi adalah tahap berpikir kritis terhadap diri sendiri. Tahap ini membutuhkan anlisis dan penilaian dengan kepala dingin, dan bukannya dengan spontanitas acak yg biasanya malah akan membingungkan. Tempat spontanitas adalah di Fase Inspirasi, jika Anda menggunakannya di Fase Distilasi, maka gunakan untuk melakukan pengembangan dan penggabungan gagasan yg sudah ada. Boleh sih keluarkan gagasan yg benar2 baru, tapi jangan sampai liar.

Di fase ini ada jebakan yg perlu diwaspadai, yakni manakala Anda lebih mencenderungkan diri untuk menggarap gagasan yg Anda telah familiar dengannya, dan bersikap pilih kasih pada gagasan2 yg benar2 baru.

Popularity: 30% [?]

Ditulis oleh: Akhmad Guntar

klarifikasi kreativitas fokus pada sasaran mentari

Ini adalah tahapan setelah fase Inspirasi. Pada tahap ini kita mengajukan pertanyaan kunci sebagai berikut:

  • Apa sih yang ingin aku capai?
  • Apa yang aku ingin sampaikan?
  • Masalah apa sih yang sebenarnya ingin aku pecahkan?
  • Hasil akhir seperti apa yang ingin aku hasilkan?
  • Gimana biar aku bisa manfaatkan gagasan ini?
  • Gagasan ini membawa aku ke mana? Apa yang bisa aku lakukan terhadapnya?

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 32% [?]

Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Dalam fase inspirasi, kita berusaha menghasilkan gagasan sebanyak mungkin. Ini adalah tahap penelitian atau pembangkitan gagasan. Proses ini dimaksudkan untuk berjalan tanpa penghalang dengan penuh spontanitas, eksperimentasi, intuisi dan juga pengembilan risiko.

Banyak orang bertanya-tanya,”Dari mana sih orang2 kreatif menemukan gagasan bagus mereka?” Jawabnya tidak lain adalah di antara tumpukan besar gagasan2 jelek. Kreativitas adalah seperti penambangan berlian, meski sebagian besar besar hasil galian itu dibuang, tapi tidak lantas boleh dibilang bahwa proses penggalian yg Anda lakukan membuang2 waktu. Anda tak akan bisa sampai pada gagasan luar biasa jika Anda tidak terlebih dahulu menggali sekian banyak gagasan jelek.
Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 32% [?]

Ditulis oleh: Kreshna Aditya

How to Get Ideas by Jack Foster

How to Get Ideas by Jack Foster

Apa saja langkah-langkah yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan ide? Dalam bukunya, How to Get Ideas, Jack Foster justru menuliskan beberapa pendapat pakar-pakar lain tentang langkah penciptaan ide. Misalnya, Hemholtz, seorang filsuf Jerman menyebutkan ada tiga langkah yang ia gunakan untuk menciptakan pemikiran baru. Pertama, tahap persiapan, di mana dia menginvestigasi masalah yang dihadapi “dari segala sisi”. Kedua, tahap inkubasi, di mana dia tidak lagi secara sadar memikirkan masalah tersebut. Ketiga, tahap iluminasi, yaitu saat di mana ide “muncul begitu saja tanpa disadari dan tanpa diusahakan” layaknya sebuah inspirasi. Pakar lain, James Webb Young, dalam bukunya A Technique for Producing Ideas, menggambarkan lima langkah penciptaan ide. Pertama, pengumpulan “bahan mentah” atau informasi yang diperlukan untuk menganalisa masalah. Kedua, menganalisa informasi secara mendalam. Ketiga, meninggalkan masalah dan tidak memikirkannya sama sekali. Keempat, tiba-tiba ide akan muncul secara tidak terduga. Kelima, mengubah ide menjadi kenyataan. Terakhir, Charles S. Wakefield, penulis buku Predator of the Universe: The Human Mind, menyebutkan tentang lima langkah mental saat proses penciptaan ide kreatif. Yang pertama adalah kesadaran akan masalah yang dihadapi. Kedua, pendefinisian masalah. Ketiga, pemahaman akan masalah dan data-data faktual yang terkait dengannya. Keempat, periode inkubasi dan masa tenang. Kelima, saat munculnya “ledakan”, yaitu munculnya ide yang sepertinya tidak melalui tahap pemikiran logis dan terurut. Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 43% [?]

Ditulis oleh: Akhmad Guntar

Jangan berpikir melangit. Untuk memecahkan masalah, Anda (pada akhirnya) harus mengubah pemikiran abstrak menjadi konkrit berdasarkan realitas.

Ketika para pengendara motor diminta pendapatnya tentang BBM yang lebih ramah lingkungan (berpolusi lebih sedikit), maka mereka semua sepakat dan mendukung. Namun ketika mereka diminta untuk membeli sendiri BBM itu yang memang harganya lebih mahal, maka urusannya sudah jadi beda.

Kecuali Anda dihadapkan pada keputusan yang harus segera diambil, maka kebanyakan keputusan biasanya masih masuk di wilayah langit atau abstrak. Memikirkan hal yang konkrit akan mengubah bagaimana Anda mendekati permasalahan.
Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 23% [?]

November 20th, 2008Sesatnya Pembinaan

Ditulis oleh: Sulistyanto Soejoso

Hari ini, Kamis 27 Nopember 2008, siang hari pukul 13.00, saya berhenti di sebuah perempatan jalan diSurabaya, menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Penjual koran menawarkan dagangannya. Adajudul di salah satu koran yang membuat saya langsung mengernyitkan dahi. “Ryan Pimpin Pesantren Napi”, itulah judul yang membuat saya mengelus dada.

Berita tentang Ryan, pembunuh berantai dari Jombang, yang saat ini sedang dalam proses pengadilan, sudah sekian lama mengisi media massa, baik cetak maupun elektronik. Salah satu yang diberitakan, Ryan dulu pernah jadi guru ngaji.

Salah satu fungsi dan tugas lembaga pemasyarakatan memang memberi pembinaan kepada para narapidana. Jika disimak dari pengalaman Ryan, dimana dia mempunyai kemampuan baca tulis huruf Arab, sepintas tidak salah jika dia sekarang disuruh memimpin pesantren untuk para napi. Sekali lagi, itu pemikiran sepintas, sesaat. Pemikiran sepintas adalah pemikiran yang tidak mendalam. Jika kita telaah lebih dalam, banyak hal bisa dipertanyakan.

Baca lanjutan dari tulisan ini »

Popularity: 12% [?]


© 2008 Bloom! Laboratory | Wordpress Theme by Windows Vista Administration | Powered by Wordpress