November 20th, 2008Sesatnya Pembinaan
Hari ini, Kamis 27 Nopember 2008, siang hari pukul 13.00, saya berhenti di sebuah perempatan jalan diSurabaya, menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Penjual koran menawarkan dagangannya. Adajudul di salah satu koran yang membuat saya langsung mengernyitkan dahi. “Ryan Pimpin Pesantren Napi”, itulah judul yang membuat saya mengelus dada.
Berita tentang Ryan, pembunuh berantai dari Jombang, yang saat ini sedang dalam proses pengadilan, sudah sekian lama mengisi media massa, baik cetak maupun elektronik. Salah satu yang diberitakan, Ryan dulu pernah jadi guru ngaji.
Salah satu fungsi dan tugas lembaga pemasyarakatan memang memberi pembinaan kepada para narapidana. Jika disimak dari pengalaman Ryan, dimana dia mempunyai kemampuan baca tulis huruf Arab, sepintas tidak salah jika dia sekarang disuruh memimpin pesantren untuk para napi. Sekali lagi, itu pemikiran sepintas, sesaat. Pemikiran sepintas adalah pemikiran yang tidak mendalam. Jika kita telaah lebih dalam, banyak hal bisa dipertanyakan.
Pembinaan di LP itu fokusnya ke mana ? Lebih ke arah ranah kognitif (olah pikir), misal ketrampilan membaca huruf Arab, atau lebih ke arah ranah afektif (olah rasa)?
Apakah seorang Ryan sudah menunjukkan sikap penyesalan yang mendalam terhadap tindak sadisnya?
Apakah seorang Ryan bisa membangun sikap mental dan watak yang lebih bagus bagi para narapidana di LP itu?
Masih banyak pertanyaan lain yang bisa diajukan.
Sangat tepat di LP ada pesantren untuk para napi. Tidak salah jika yang menjadi pembimbing di situ juga berasal dari napi. Tetapi napi yang dijadikan pembimbing seyogyanya memiliki kriteria khusus, bukan sekedar pandai baca tulis huruf Arab. Jadi di samping punya kriteria baca tulis, napi yang jadi pembimbing sudah harus menunjukkan rasa penyesalan dan tobat yang mendalam. Dia bisa meyakinkan teman-temannya bahwa perbuatan yang selama ini dilakukan banyak yang salah. Napi yang jadi pembimbing sudah bisa memberi contoh tentang perubahan sikap mental yang terjadi pada dirinya. Jika kriteria ini disepakati, maka napi itu jelas yang sudah lama menghuni LP, karena dengan itu, petugas-petugas LP sudah punya waktu cukup untuk menilai napi yang akan dijadikan pembimbing.
Dalam kasus Ryan, waktunya terlalu singkat bagi petugas LP untuk bisa memberikan penilaian tentang sosok Ryan. Jika judul koran itu benar, sebaiknya hal itu ditinjau kembali, agar tidak terjadi pembinaan yang sesat. Harapan saya hanya satu, mudah-mudahan judul koran itu bukan sebuah kenyataan.
Popularity: 12% [?]


