December 4th, 2008Setiap Otak Kita Itu Unik
Para ilmuwan telah mengkonfirmasi bahwa setiap otak manusia itu unik, sama halnya seperti sidik jari di jempol kita. Koneksi antar sel yang dibentuk oleh pengalaman membentuk peta kognitif yang sifatnya benar-benar unik. Peta berpikir dan persepsi kita sangatlah bervariasi dan memperlihatkan fluktuasi yang besar dalam batasan-batasannya sepanjang waktu. Dalam sistem visual kita saja, kita memiliki lebih dari tiga puluh pusat interkoneksi otak, yang masing-masing memiliki peta sendiri-sendiri. Pembelajaran terjadi ketika peta-peta ini, di mana jaringan sel-sel saraf saling berbicara satu sama lain. Semakin terkoneksi jaringan-jaringan itu, semakin besar pemaknaan yang diperoleh seseorang dari pembelajaran. Setiap koneksi ini bisa mempunyai lima puluh sampai seratus ribu neuron atau sel otak di dalamnya.
Apabila Anda tidak mempunyai jaringan neural yang memadai untuk suatu fenomena atau ilmu, maka artinya Anda belum masuk pada wilayah pemahaman tentangnya. Itulah mengapa konsep-konsep yang sama sekali baru pada awalnya sangat sulit untuk dicerna: karena jaringan yang sudah ada perlu waktu untuk berekspansi guna mendukung asosiasi baru atas ilmu baru tersebut.
Ukuran dan berat otak juga bervariasi di antara setiap manusia. Penemu hukum relativitas, Albert Einstein, mempunyai ukuran otak rata-rata. Sementara penulis terkenal Perancis Honore de Balzac mempunyai otak 40 persen lebih besar dari rata-rata. Tidak hanya itu, pengabelan internal otak kita juga berbeda-beda. Dua orang yang berada pada sebuah kecelakaan yang sama dapat memberikan laporan saksi mata yang berbeda. Persepsi kita adalah penerjemahan sifatnya personal atas stimuli yang didasarkan pada jaringan neural kita sebagai filter.
Di samping perbedaan-perbedaan berbasis pengalaman dalam fisiologi, pengabelan neural, dan keseimbangan biokimia, masa normal untuk belajar membaca juga bisa berbeda. Bagi beberapa, bisa jadi adalah pada usia enam tahun; bagi yang lainnya, mungkin saja pada usia tiga tahun. Perkembangan normal yang sempurna dapat berbeda-beda setiap orang, dengan tenggang waktu tiga tahun di antara para pembelajar. Dan penemuan ini memberikan implikasi dramatis bagi organisasi pembelajaran di seluruh dunia.
Semua anak usia lima tahun seharusnya tidak dituntut untuk menunjukkan performa secara akademis, fisik, atau sosial pada level yang sama. Kurikulum dan kerangka kerja di seluruh negara yang memasukkan standar kinerja peringkat-kelas yang spesifik secara biologis sebenarnya tidaklah sesuai. Tidak semua pembelajar sudah siap, banyak anak-anak usia tiga belas tahun mungkin saja secara neurologis belum siap untuk menerima pelajaran aljabar atau geometri. Otak manusia sesungguhnya hanya mampu melakukan banyak hal dalam jumlah yang sangat banyak apabila landasan kerja neurologisnya telah diletakkan atau sang guru telah mempunyai fleksibilitas yang sangat besar. Ketika landasan kerjanya belum tersedia, pembelajar tertentu akan tersabotase oleh rasa frustasi. Banyak pembelajar yang sekedar meyimpulkan diri mereka bodoh dan lalu menyerah.
Popularity: 16% [?]

